Cuaca di San Francisco memang sukar ditebak. Terkadang dingin
menusuk sumsum. Tapi, tidak jarang, matahari bersinar dengan garangnya. Kali
ini, saya kudu menyerah pada hawa dingin yang menerpa kulit. Menyesal rasanya
pakai baju biru casual ini. Kenapa musti kuabaikan saran dari Ivan? Yap, local
guides asli Jakarta, yang sudah 15 tahun berdomisili di SF ini bilang, ”Layer
is the key!” itu prinsip yang harus selalu dijalankan manakala beredar di
kawasan California. Karena ya itu tadi, cuaca amat sulit ditebak. Yang awalnya
kelihatan hangat… eh, bisa mendadak dingin brrrrr…!
“Duh, nyesel aku… nyesel banget…!”
Aku menyusuri kawasan Fisherman’s Wharf sambil menyilangkan
kedua tangan di depan dada. Berharap kehangatan bisa muncul dari sana. Plus, disambi
menggosok-gosokkan kedua telapak tangan. Nihil. Tak ada hasil.
Beberapa local guides dari negara lain melemparkan senyum.
Kami belum kenal sebelumnya, tapi wajah-wajah yang super excited itu, menyadarkan
saya bahwa…..
Heiiii… this is my once-in-a-lifetime experience! Lupakan
soal jaket, prinsip ‘layer is the key!’ yadda yadda blablabla itu! Lupakan hawa
dingin yang terus menerabas masuk! Just seize the day… enjoy your moment!
Jangan focus pada kesalahan yang engkau lakukan pagi ini! Fokuslah selalu pada
apa yang bisa kau perbuat supaya momen berharga ini tidak lenyap plassss begitu
saja!
Chill, girl! Santaaaaaiiii!
***
Karakter dan personality saya laksana cuaca di SF: amat
sukar ditebak. Saya sendiri—sebagai sosok yang dititipi roh, jiwa raga oleh
Sang Maha Kuasa—juga kerap terjerembab dalam pertanyaan “Are you okay, dear
nurulrahma?” Apalagi kalo lagi PMS. Wadaaawww, kadang saya nggak kenal dengan jiwa
yang bersemayam di tubuh ini.
“Who are you?”
Sama seperti keputusan ‘bodoh’ di mana saya tidak mengenakan
jaket/ outer ketika jalan-jalan di SF. Dalam hidup, banyaaaaak banget keputusan
bodoh, konyol, aneh, yang saya lakukan. BANYAAAAK BANGET! Dan herannya, saya
tuh impulsive abis. Bisa banget mengambil keputusan seketika, saat itu juga,
dengan semena-mena.
Kemudian…. Yang muncul adalah…. Penyesalan…. Dan merutuki
diri sendiri. What have you done anyway?
***
Terkadang, orang-orang di sekitar menilai saya baik-baik
saja. Sama halnya ketika ibunda saya pada akhirnya berpulang. Ketika para
pentakziah datang, saya memasang wajah, “I’m okay… saya ikhlas….” Tak perlu ada
air mata yang mengalir di hadapan mereka. Saya tahan sekuat tenaga. Namun… sepekan…
dua pekan kemudian…..
Tanggul air mata itu jebol juga.
Saya merutuki diri sendiri. Sebenarnya, gelagat tidak beres
sudah muncul berbulan-bulan lalu. Ketika ibu mendadak malas makan. Ketika batuk
ibu tak kunjung sembuh. Ketika ibu begitu sering berbicara tentang kematian.
KENAPA SAYA TIDAK PEKA?
Kenapa saya selalu merasa bahwa ibu adalah super-lady,
strong woman, yang sigap dan siap sedia menghalau semua cobaan dan rintangan
dalam hidup? Kenapa saya membiarkan ibu bertarung dengan problema hidup yang datang
bertubi-tubi? Apa gunanya keberadaan saya sebagai anak beliau? Kenapa saya tidak
suportif? Mana kontribusi saya?
Pertanyaan-pertanyaan itu datang bertubi-tubi. Termasuk,
pertanyaan konyol yang tak perlu dijawab, ”Andaikata waktu itu saya nggak salah
bawa Ibu ke RS yang pertama, mungkin nyawa Ibu masih bisa diselamatkan….Kenapa
waktu itu saya justru bawa Ibu ke sana ya?”
Astaghfirullah…..
***
Sulit rasanya untuk memaafkan diri sendiri. Amat sulit. Saya
mencoba untuk mengembargo diri, tidak terlibat dan berinteraksi dengan aneka
forum kajian dekat rumah. Mengapa? Saya takut berjumpa dengan sahabat-sahabat
Ibu. Di relung hati yang paling dalam, saya merasa…. tatapan mereka seolah “menyalahkan”
saya. Anak yang nggak bisa mempersembahkan hal terbaik bagi Ibunda.
Setiap ada momen keislaman di masjid dekat rumah, saya
sengaja datang terlambat. Supaya apa? Agar dapat posisi di shaf paling belakang,
dan saya tidak perlu memasang wajah manis penuh senyum ulala di depan para sahabat
ibu.
***
“So… how? You still feel it’s too cold here?”
“Hmmm… not really… I’m okay now.”
Saya memasang wajah “Aku baik-baik saja”. Yeah, terkadang
kita bisa sedemikian santun pada totally-stranger-person, dan justru bersikap
semau-gue pada orang yang demikian besar jasa dan pengaruhnya untuk hidup kita.
Kami menyusuri kawasan Fisherman’s Wharf ini… Menjumpai
singa laut yang heboh berteriak, seolah memancing atensi para wisatawan. Dari
kejauhan bisa kami saksikan Alcatraz, yap… penjara yang demikian legendaris
itu.
“Banyak tahanan kriminal paling sadis yang dipenjara di
Alcatraz. Mereka mencoba melarikan diri, dengan renang di sepanjang laut SF.
Tapi tahu sendiri kan… cuacanya dingin banget seperti ini. Tahanan yang
berusaha kabur itu, kebanyakan udah nggak jelas nasibnya. Kemungkinan besar,
meninggal kedinginan ketika berusaha renang di sini…”
Aku manggut-manggut mendengar penjelasan Karen, local guides
moderator yang khatam banget seputar destinasi di SF.
Kabur dari penjara yang begitu menyeramkan.
Lalu berenang mengarungi samudera, dengan suhu yang minus.
Heiiii…! Mereka para criminal kelas wahid!
Dengan catatan keburukan yang begitu dahsyatnya, para
tahanan itu sanggup memaafkan diri sendiri. Untuk kemudian, berusaha keras agar
bisa lepas dari jerat penjara yang mengerikan. Barangkali, prinsip hidup
mereka, lebih baik aku bertarung melawan dinginnya samudera… tidak masalah apabila
nantinya aku hanya tinggal nama… tapi paling tidak, aku sudah berjuang untuk
keluar dari penjara yang tidak manusiawi ini… dan aku memberikan bukti, bahwa
sebagai manusia, aku memaafkan diri sendiri.
Maka…..
Ditingkahi sepoi angin teluk San Francisco…. Saya memejamkan
mata, seraya bergumam pelan…..”Dear @nurulrahma… All is well….. Bersikap
adillah pada dirimu…. Semua orang punya porsi salah dan dosa masing-masing…. Banyak
hal yang terjadi di dunia ini, di luar kuasa dan kehendak kita, karena heiii…. siapa
kita? Kita hanyalah makhluk lemah, sebutir atom di galaksi nan demikian perkasa…
Kita hanyalah debu… dibandingkan segenap kekuasaan Sang Pemilik Semesta…. Maka….
Maafkan dirimu… Maafkan…. Just let everything happens…. Embrace your life and
be thankful…





setuju, semua orang punya masalah sendiri dan pasti Allah telah memberikan kemampuan pada mereka untuk bertahan dan bangkit dari masalah tersebut.
BalasHapusMembayangkan sahabat2 Ibu menatapmu Mba penuh dengan tanda tanya, ahh semoga saja kita tetep berpikiran positif, insyaallah Ibundanya pun tau itu, semoga belio tenang di sana. Ya, memaafkan diri sendiri penuh keikhlasan satu2nya jalan berdamai dengan diri sendiri, semangaat Mbaa Nuruul!
BalasHapusHiksss mengharukan Mbaaa
BalasHapusAlfatihah buat ibundanya ya.
Mbak, baca blogpost mu ini seperti aku sedang membaca cerita novel. Bagus sekali, aku terharu dan jadi inget ibu :(
BalasHapusaargh... Mbak Nurul
BalasHapusterkadang, kita harus jujur pada dunia kalau kita sedang tidak okay... iya... jujurr
ah aku jadi kangen cuaca dingin itu lagi..
BalasHapusSaya yakin semua hal sudah ditentukan oleh Yang Maha Kuasa, Allah selalu memberi sesuatu yang terbaik buat kita. Ada banyak pelajaran berharga dalam semua peristiwa
BalasHapusTidak ada sesuatu yang kebetulan, semua terjadi karena ada alasannya..
BalasHapus