Tampilkan postingan dengan label thought. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label thought. Tampilkan semua postingan
Selasa, 29 Mei 2018

Morinaga ChilKid Soya, Solusi Terbaik untuk Alergi Anak


Halo, teman-teman semuanya. 

Kenalkan, namaku Huud. Aku tinggal di Surabaya. Sehari-hari aku biasa diajak bermain dan belajar bareng Bunda dan Ayahku. Macam-macam deh, permainan kami. Kadang aku diajak pergi ke taman, atau ke perosotan yang ada di mall. Di lain waktu, aku diajak untuk melihat Kereta Api. Trus, Bunda dan Ayah juga mengajak aku jalan-jalan ke puau Madura! Sungguh menyenangkan sekali!

Aku dan Bunda traveling ke Bangkalan, Madura

Supaya tenagaku tetap banyak, Bunda memberikan makanan bergizi untukku. 


Yaaaa… kadang aku suka makanan dan kue yang dihidangkan Bunda. Tapii, kalau disuruh makan sayur, aku suka pilih-pilih, hihii. Bunda beberapa kali curhat ke Bude Nurul, katanya gini.

Bunda: Huud ini picky eater banget! Suka pilih-pilih makanan. Kalo nggak cocok, dia nggak mau makan sama sekali.

Bude Nurul: Lhooo… mas Huud harus pintar yaaa, makannya (Bude menoleh ke arahku). Supaya tumbuh besar dan kuat! Trus, jangan lupa minum susu yaaaaa

Bunda: Nah, itu dia, Mbak. Huud ini kalo minum susu formula biasa, yang dari susu sapi itu, perutnya suka bedegelen (sakit nggak bisa BAB). Gimana ya?

Bude Nurul: Waduh. Kasian banget! Berarti Huud alergi susu sapi!

Bunda: Duuuh, kalo dia alergi tumbuh kembangnya gimana dooong? Anakku nanti nggak bisa berprestasi atau piye?

Bunda Nurul: Ehhh, tenang ajaa! Namanya anak alergi tetap bisa berprestasi kok. Coba deh, minum Morinaga ChilKid Soya aja. 


 

***

Waaaah, syukurlah. Ternyata ada ya, susu yang ditujukan buat anak-anak dengan bakat alergi. Bude Nurul dan Bundaku makin semangat diskusi soal alergi susu sapi ini.

“Jadi gini, Dek. Ada program tahunan yang diinisiasi World Allergy Organization (WAO). Nama programnya World Allergy Week. Nah tahun ini, topik yang diangkat berfokus pada Dermatitis Atopik atau Eksim.”






“Ooo gitu. Dermaaa apa itu tadi?”

“Dermatitis Atopik adalah penyakit radang kulit yang tidak menular dan bisa kambuh secara berkala, tapi juga bisa mencapai titik kronis. Umumnya, episode pertama terjadi sebelum Si Kecil berusia 1 tahun, yang selanjutnya bisa hilang dan timbul kembali. Prevalensi jenis kulit Dermatitis Atopik pada anak diperkirakan mencapai 10%-20%, sementara pada orang dewasa sekitar 1%-3%.”

“Kaitannya dengan alergi susu sapi gimana ya Mba?”

“Nah, penyebab Dermatitis Atopik ini memang masih belum dapat seluruhnya dikenali dengan pasti.  Namun dari hasil riset kesehatan, 50% penyebabnya berasal dari faktor eksternal. Di antaranya, kondisi lingkungan sekitar yang terlalu kering, bahan pencetus iritasi kulit seperti jenis sabun atau deterjen tertentu, debu, rumput serta serbuk dari tumbuhan berbunga (pollen).

Sementara 50% penyebab lainnya dicetuskan oleh makanan. Ini nih…. ada 8 makanan utama yang dianggap bisa mencetus alergi. Dikenal dengan istilah THE BIG 8!”

“Apa aja The BIG 8 itu?”

“The BIG 8 itu mencakup:
susu (sapi),
telur,
ikan ,
jenis makanan laut tertentu, missal: udang, kepiting, cumi-cumi
gandum,
kacang tanah,
kacang kedelai,
kacang pohon seperti, walnut, almond, hazelnut, cashew dan pistachio.




For your information….. alergen protein susu sapi, menjadi salah satu pencetus paling umum di dunia dengan angka kejadian yang mencapai 2 hingga 7.5%! Dari hasil penelitian juga nih…. 0.5% terjadi pada Si Kecil yang masih mendapatkan ASI eksklusif, lho. Jadi memang kasus alergi susu formula ini lumayan banyak terjadi pada anak-anak di seluruh dunia.” 

“Oalaaah gitu ya. Gimana cara mencegah alergi pada anak-anak ya?”

“Aku banyak baca artikel di website gizi dan parenting, terutama di www.cekalergi.com. Kata dr. Zakiudin Munasir, Sp.A(K), Guru Besar Bagian Anak Alergi dan Immunologi dari RSCM/FKUI, alergi bisa dicegah kok. 

Beberapa tips yang beliau berikan untuk mencegah alergi yang bersumber dari makanan adalah:
(1). memperkenalkan berbagai jenis makanan sedini mungkin,
(2). memberikan ASI secara eksklusif,
(3). jika bunda tidak dapat memberikan ASI, anak dapat diberikan susu yang telah diformulasikan secara khusus seperti susu dengan protein terhidrolisat parsial

***
Diskusi antara Bundaku dan Bude Nurul semakin intens saja.

“Tadi mbak Nurul menyarankan Huud untuk minum Morinaga ChilKid Soya. Ini susunya recommended kah?”

“Yoi banget, Dek. Menurut hasil survey yang dilakukan Home Tester Club terhadap ibu-ibu di Indonesia dengan anak usia antara 1-3 tahun yang alergi susu sapi, hasilnya adalah:
 9 dari 10 ibu merasa puas dan merekomendasikan ChilKid Soya sebagai solusi terbaik alergi. 

 Itu artinya, ChilKid Soya sesuai untuk konsumsi Si Kecil yang alergi dan nutrisinya diperkaya, setara dengan kebaikan susu sapi untuk tumbuh kembang Si Kecil. Jadi kalau rutin mengonsumsi susu ini bisa banget jadi solusi agar anak alergi tetap bisa meraih prestasi yang gemilang.”  

 
“Morinaga intens banget ya, kasih edukasi soal alergi?”

“Yap itu sudah jadi komitmen Morinaga. Sebagai salah satu brand unggulan PT Kalbe Nutritionals, Morinaga secara berkesinambungan mendukung program tahunan World Allergy Week dengan melalui berbagai program edukasi. Tahun ini nih, Morinaga mengadakan program Parenting Seminar #MorinagaAllergyWeek skala nasional. Tujuannya apa? Tentu sebagai program edukasi tahunan untuk meningkatkan pemahaman orang tua akan alergi dan penyakit lainnya. Juga untuk menggagas pelatihan dan sumber daya untuk melakukan diagnosa dan tindakan pencegahan alergi.” 

Parenting Seminar #MorinagaAllergyWeek

“Yaaaaahh, aku ketinggalan nggak ikutan seminarnya…..”


“No need to worry! Orang tua tetap bisa mendapatkan edukasi mumpuni di website www.cekalergi.com. Kamu daftar jadi member di situ, gih! Buanyaaak artikel yang penting buat menambah info untuk buah hati kita. Ada resep untuk anak alergi, ada juga live chat dengan doker anak dan tim Morinaga, tools untuk mengetahui risiko alergi Si Kecil, macam-macam deh.” 

“Sip, siip! Aku jadi semangat banget niiih, walaupun alergi susu sapi, Huud tetap bisa tumbuh kembang optimal dan #AlergiTetapBerprestasi ya…. “

“Iya dong! Kalau alergi tidak dipahami dan dicegah, maka tumbuh kembang Si Kecil akan terhambat. Karena kegiatan belajar, bermain serta aktifitas stimulasinya terganggu. Dan jika alergi tidak diatasi, maka penyakit seperti Dermatitis Atopik, hanyalah gejala awal alergi dan kondisinya bisa memburuk yang di kemudian hari bisa muncul penyakit alergi lain seperti asma dan rinitis alergi. Pokoke kita kudu  mengindentifikasi pemicu dan menghindarinya serta menerapkan perawatan untuk menjaga kelembaban kulit dengan produk hipoalergenik yang tidak mengandung parfum.”

“Bude Nurul bener-bener rajin baca artikel dari www.cekalergi.com  yaaa…”

“Yoiiii! Ini yang aku suka dari #SusuMorinaga . Edukasi seputar alergi, mulai dari pemahaman, pencegahan dan solusinya, dijembrengin secara total. Karena kan buanyaaak isu ataupun hoax yang beredar seputar alergi. Hare gene, kita kudu cari sumber yang terpercaya dong ya. 

Yang jelas, Morinaga Allergy Solution itu solusi alergi untuk Si Kecil melalui sinergi nutrisi yang tepat, hasil pengembangan PT Kalbe Nutritionals Bersama Morinaga Research Centre Jepang. 

Ada tiga keunggulan, nih….
yang pertama adalah solusi nutrisi untuk mencegah alergi dan mengatasi alergi susu sapi.
Yang kedua adalah tersedianya produk nutrisi untuk anak dari lahir sampai usia 12 tahun.
Yang ketiga adalah sinergi nutrisi yang tepat dan mencakup Brain Care, Body Defense dan Body Growth. 

Eniwei, pada dasarnya, alergi anak dapat diatasi dan orang tua bisa banget kok mencegah timbulnya penyakit akibat mewarisi bakat alergi dari ortu.”

“Siaaaappp, makasihh banyaaaakk sharing-nya, Bude Nurul…”

“Sama-sama….”

***

Fiuuuuhhh, seneng banget deh, ada Morinaga ChilKid Soya. Aku sukaaaaaa dan susu ini 
jadi favoritku! Aku juga bisa bikin susu sendiri lhoooo. Plus bikinkan segelas untuk adikku, Khanza.

https://youtu.be/QqGTX6EM3xY

Jadi... buat teman-teman yang juga alergi susu sapi kayak Huud, jangan khawatir ya :) Bilang sama Bunda dan Ayah untuk menyediakan Morinaga ChilKid Soya buat kita. 








Rabu, 21 Maret 2018

Aku Tidak Mau Pelihara Hewan

Anakku Sidqi tuh sering pulang sekolah sambil bawa kucing kecil.
Alasannya..... "Kasihan Bu.... kurus dekil kayak gini. Kurang makan...."

Dia biasa nemuin tuh kucing di dekat pasar kaget. Kumal. Njijiki banget deh.
"Itu banyak kumannya lho...."

"Iya, kita pelihara aja... Dimandiin, dibersihin kasih makan...."

DUH.

Terus terang aku gak suka kalo Sidqi mulai request pelihara hewan kayak gini. Namapun anak kicik, pasti gampang bosenan lah.

Awal-awal kayak yang sayaaaaang ama hewannya. Tapi lama-lama bosen juga
Jadi, secara personal, aku nyatakan bahwa keluarga kami (officially) tidak pelihara hewan.

Tapi... kalo ada kucing liar yang datang ke rumah dan kelihatan lapar, ya tetap kita kasih makan sih *lhaaa

Minggu, 04 Februari 2018

Berdamai dengan Diri Sendiri di Fisherman's Wharf California


Cuaca di San Francisco memang sukar ditebak. Terkadang dingin menusuk sumsum. Tapi, tidak jarang, matahari bersinar dengan garangnya. Kali ini, saya kudu menyerah pada hawa dingin yang menerpa kulit. Menyesal rasanya pakai baju biru casual ini. Kenapa musti kuabaikan saran dari Ivan? Yap, local guides asli Jakarta, yang sudah 15 tahun berdomisili di SF ini bilang, ”Layer is the key!” itu prinsip yang harus selalu dijalankan manakala beredar di kawasan California. Karena ya itu tadi, cuaca amat sulit ditebak. Yang awalnya kelihatan hangat… eh, bisa mendadak dingin brrrrr…!


“Duh, nyesel aku… nyesel banget…!”

Aku menyusuri kawasan Fisherman’s Wharf sambil menyilangkan kedua tangan di depan dada. Berharap kehangatan bisa muncul dari sana. Plus, disambi menggosok-gosokkan kedua telapak tangan. Nihil. Tak ada hasil.


Beberapa local guides dari negara lain melemparkan senyum. Kami belum kenal sebelumnya, tapi wajah-wajah yang super excited itu, menyadarkan saya bahwa…..

Heiiii… this is my once-in-a-lifetime experience! Lupakan soal jaket, prinsip ‘layer is the key!’ yadda yadda blablabla itu! Lupakan hawa dingin yang terus menerabas masuk! Just seize the day… enjoy your moment! Jangan focus pada kesalahan yang engkau lakukan pagi ini! Fokuslah selalu pada apa yang bisa kau perbuat supaya momen berharga ini tidak lenyap plassss begitu saja!

Chill, girl! Santaaaaaiiii!


***

Karakter dan personality saya laksana cuaca di SF: amat sukar ditebak. Saya sendiri—sebagai sosok yang dititipi roh, jiwa raga oleh Sang Maha Kuasa—juga kerap terjerembab dalam pertanyaan “Are you okay, dear nurulrahma?” Apalagi kalo lagi PMS. Wadaaawww, kadang saya nggak kenal dengan jiwa yang bersemayam di tubuh ini.

“Who are you?”

Sama seperti keputusan ‘bodoh’ di mana saya tidak mengenakan jaket/ outer ketika jalan-jalan di SF. Dalam hidup, banyaaaaak banget keputusan bodoh, konyol, aneh, yang saya lakukan. BANYAAAAK BANGET! Dan herannya, saya tuh impulsive abis. Bisa banget mengambil keputusan seketika, saat itu juga, dengan semena-mena.

Kemudian…. Yang muncul adalah…. Penyesalan…. Dan merutuki diri sendiri. What have you done anyway?




***

Terkadang, orang-orang di sekitar menilai saya baik-baik saja. Sama halnya ketika ibunda saya pada akhirnya berpulang. Ketika para pentakziah datang, saya memasang wajah, “I’m okay… saya ikhlas….” Tak perlu ada air mata yang mengalir di hadapan mereka. Saya tahan sekuat tenaga. Namun… sepekan… dua pekan kemudian…..

Tanggul air mata itu jebol juga.

Saya merutuki diri sendiri. Sebenarnya, gelagat tidak beres sudah muncul berbulan-bulan lalu. Ketika ibu mendadak malas makan. Ketika batuk ibu tak kunjung sembuh. Ketika ibu begitu sering berbicara tentang kematian.

KENAPA SAYA TIDAK PEKA?

Kenapa saya selalu merasa bahwa ibu adalah super-lady, strong woman, yang sigap dan siap sedia menghalau semua cobaan dan rintangan dalam hidup? Kenapa saya membiarkan ibu bertarung dengan problema hidup yang datang bertubi-tubi? Apa gunanya keberadaan saya sebagai anak beliau? Kenapa saya tidak suportif? Mana kontribusi saya?

Pertanyaan-pertanyaan itu datang bertubi-tubi. Termasuk, pertanyaan konyol yang tak perlu dijawab, ”Andaikata waktu itu saya nggak salah bawa Ibu ke RS yang pertama, mungkin nyawa Ibu masih bisa diselamatkan….Kenapa waktu itu saya justru bawa Ibu ke sana ya?”

Astaghfirullah…..

***

Sulit rasanya untuk memaafkan diri sendiri. Amat sulit. Saya mencoba untuk mengembargo diri, tidak terlibat dan berinteraksi dengan aneka forum kajian dekat rumah. Mengapa? Saya takut berjumpa dengan sahabat-sahabat Ibu. Di relung hati yang paling dalam, saya merasa…. tatapan mereka seolah “menyalahkan” saya. Anak yang nggak bisa mempersembahkan hal terbaik bagi Ibunda.

Setiap ada momen keislaman di masjid dekat rumah, saya sengaja datang terlambat. Supaya apa? Agar dapat posisi di shaf paling belakang, dan saya tidak perlu memasang wajah manis penuh senyum ulala di depan para sahabat ibu.

***

“So… how? You still feel it’s too cold here?”

“Hmmm… not really… I’m okay now.”




Saya memasang wajah “Aku baik-baik saja”. Yeah, terkadang kita bisa sedemikian santun pada totally-stranger-person, dan justru bersikap semau-gue pada orang yang demikian besar jasa dan pengaruhnya untuk hidup kita.

Kami menyusuri kawasan Fisherman’s Wharf ini… Menjumpai singa laut yang heboh berteriak, seolah memancing atensi para wisatawan. Dari kejauhan bisa kami saksikan Alcatraz, yap… penjara yang demikian legendaris itu.

“Banyak tahanan kriminal paling sadis yang dipenjara di Alcatraz. Mereka mencoba melarikan diri, dengan renang di sepanjang laut SF. Tapi tahu sendiri kan… cuacanya dingin banget seperti ini. Tahanan yang berusaha kabur itu, kebanyakan udah nggak jelas nasibnya. Kemungkinan besar, meninggal kedinginan ketika berusaha renang  di sini…”

Aku manggut-manggut mendengar penjelasan Karen, local guides moderator yang khatam banget seputar destinasi di SF.

Kabur dari penjara yang begitu menyeramkan.

Lalu berenang mengarungi samudera, dengan suhu yang minus.

Heiiii…! Mereka para criminal kelas wahid!

Dengan catatan keburukan yang begitu dahsyatnya, para tahanan itu sanggup memaafkan diri sendiri. Untuk kemudian, berusaha keras agar bisa lepas dari jerat penjara yang mengerikan. Barangkali, prinsip hidup mereka, lebih baik aku bertarung melawan dinginnya samudera… tidak masalah apabila nantinya aku hanya tinggal nama… tapi paling tidak, aku sudah berjuang untuk keluar dari penjara yang tidak manusiawi ini… dan aku memberikan bukti, bahwa sebagai manusia, aku memaafkan diri sendiri.



Maka…..

Ditingkahi sepoi angin teluk San Francisco…. Saya memejamkan mata, seraya bergumam pelan…..”Dear @nurulrahma… All is well….. Bersikap adillah pada dirimu…. Semua orang punya porsi salah dan dosa masing-masing…. Banyak hal yang terjadi di dunia ini, di luar kuasa dan kehendak kita, karena heiii…. siapa kita? Kita hanyalah makhluk lemah, sebutir atom di galaksi nan demikian perkasa… Kita hanyalah debu… dibandingkan segenap kekuasaan Sang Pemilik Semesta…. Maka…. Maafkan dirimu… Maafkan…. Just let everything happens…. Embrace your life and be thankful…





































Jumat, 26 Januari 2018

Tips Menghilangkan Takut atau Phobia Terbang

Anda punya ketakutan ketika akan terbang? Suara panggilan penumpang di bandara laksana terompet/ sangkakala Israfil di telinga Anda?

Tenang. Don't be panic. Anda tidak sendirian, karena ternyata... tidak sedikit orang-orang yang mengalami ketakutan serupa. Khawatir dan ketakutan berlebihan (mengarah ke phobia), kerap dialami sejumlah manusia manakala akan, ketika, dan menjelang landing di pesawat.

Saya bikin status di FB, dan bertanya openly, apa solusi (yang semoga) jitu dan sangat bias diterapkan untuk menghalau rasa takut naik pesawat? Berikut di antaranya



(1). BERDOA 
Yap. ini adalah jawaban khas insan beriman. Doa yang membuat kita yakin, bahwa apa yang kita lakukan senantiasa mendapatkan petunjuk, bimbingan dan perlindungan dari Yang Maha Kuasa. Apapun takdir kehidupan, harus senantiasa kita rujuk pada keputusan Dia Sang Maha Segala. So... berdoa, adalah "senjata". Doa adalah amunisi handal yang membuat kita merasa mantab jiwa, bahwa all is well.

(2). PILIH MASKAPAI YANG MINIM GUNCANGAN 
Contohnya.... Garuda Indonesia.
Maskapai ini identik dengan karakter kapten pesawat yang amat smooth ketika take off maupun landing. Jadi, buat yang masih termasuk jajaran newbie dalam pengalaman naik pesawat (atau yang nggak newbie tapi sering terjerat ngeri tak berkesudahan), ada baiknya pertimbangkan untuk pilih maskapai yang oke dokey ketika terbang mengangkasa.

(3). PILIH JAM PENERBANGAN PAGI ATAU SIANG 
Apalagi kalau cuaca sedang tidak beraturan seperti sekarang, rentang waktu pagi atau siang biasanya lebih tenang

(4). CARILAH TEMPAT DUDUK DI LORONG/AISLE. 
Sebaiknya, jangan di samping jendela. Karena bakal berpotensi menambah rasa takut bin deg-degan.

(5). CARI TEMPAT DUDUK DI DERETAN DEPAN
Kenapa? Karena lebih sunyi, stabil, dan nggak glodak-glodak. Beda kalau ada di tengah (dekat sayap) ataupun di ekor. O iya, bagian depan itu juga relatif sepi dari lalu lalang penumpang ataupun kru pesawat.

(6). JANGAN DILAWAN! LEMESIN AJA, SHAY!
Ini jawaban dari Haryadi Yansyah alias Omnduut

"Ibuku termasuk yang phobia. Aku bilangnya gini, pertama, kalau ada guncangan, jangan dilawan. Belio suka badannya dikerasin gitu, tegang dan dalam pikirannya kalo goncangan = pesawat akan jatoh. Aku bilang berdoa, zikir dan ikutin aja alur goncangan dipesawat. 

Kedua, aku kasih fakta bahwa pesawat terbang adalah moda transportasi teraman di dunia. Ya ini dilihat dari prosentase kecelakaan dan jumlah penerbangan yang ada. Aku juga kasih tahu bahwa turbulensi itu gak masalah, yang jadi titik kritis itu pas landing dan take off. Jadi, dengerin apa aja instruksi FA (flight attendant)-nya dengan baik. 

Alhasil, sekarang terbang sendirian pun ibu berani. Tapi rute pendek sih, macam Palembang ke Pangkal Pinang atau Palembang ke Jakarta. Terakhir dia umroh juga sendirian. Keknya ini karena rasa kangennya sama baitullah mengalahkan rasa takut hehehehe."


 (7). SENGAJA JANGAN TIDUR KETIKA MENJELANG NAIK PESAWAT 
Supaya apa? Agar badan terasa capek banget, dan siap bobok pulessss ketika di pesawat. 

(8). BAWA ANTIMO atau KONSULTASI DENGAN DOKTER
Apabila masih belum bias tidur atau tak kunjung merasa capek, ada baiknya siapkan Antimo sejak dari rumah. Minum sesaat sebelum take off, supaya bisa tidur selama di udara. 

Senior saya bahkan mengidap claustrophobic dan dia konsultasi ke dokter, lalu diresepkan obat penenang, sebangsa Valium

(9). ALIHKAN PERHATIAN KE HAL-HAL LAIN
Kalau saya biasanya lihat film yang tersedia di in-flight entertainment. Ini lumayan bisa mengurangi rasa deg-degan, apalagi kalau ada turbulensi hebat di udara

(10). ADA TIPS LAINKAH DARI TEMAN-TEMAN?





















Kamis, 25 Januari 2018

Sebongkah Cinta untuk Adik-adik Survivor Kanker

Kalau boleh memilih, semua anak tentu ingin tetap bergumul dengan dunianya. Bermain, berbagi tawa, melesakkan mimpi dan mengejar cita….
Kalau boleh memilih, tak satupun anak yang mengizinkan keceriaan harinya tercerabut oleh penyakit ganas nan mematikan….
Kalau boleh memilih, para bocah ini tentu tak mau berkawan akrab denganmonster bernama kanker

Sayang… terkadang, hidup tak menawarkan banyak pilihan.

Ketika mimpi buruk itu datang, dan menjelma jadi peristiwa nyata yang tak mungkin dielakkan. Ketika raga harus menyerah dengan kanker yang sedemikian ganas, maka hidup seolah hanya sebuah jalan buntu. Tak ada pilihan lain. Para bocah ini harus rela mengenyahkan keluh. Menata mental, untuk kebal. Untuk tetap menapaki jejak hidup yang terasa sedemikian terjal.

Para Penakluk Kemustahilan

Apabila rasa gundah gulana menyergap, buru-buru saya buka koleksi foto saya tentang Tiara Handicraft. Ada semilir rasa haru, yang datang tanpa diundang. Menyaksikan kiprah saudara-saudara saya, para penyandang difabel (different ability), yang tetap mengepakkan sayap semangat mereka… Sekaligus membuktikan pada dunia, bahwa mereka selalu mampu berkarya, dan menggerojok rasa bangga dalam dada…
301fc4a22392c5ea9d8464cc7479fa49_crafter
Para penyandang difabel, pekerja di Tiara Handicraft
39e39f4ee352bfbd18c6a522d712bb9b_mas-ucil
Bu Titik Winarti (kiri) dan Mas Acil,
Ngobrol asyik dengan Bu Titik
Ngobrol asyik dengan Bu Titik
Tiara Handicraft memang bukan UKM biasa. Di bawah komando Ibu Titik Winarti, Tiara Handicraft melesat menjadi UKM yang punya diferensiasi kuat. Ya, 90 persen pekerja adalah penyandang disabilitas.
Bicara soal istilah nih, Ibu Titik sendiri lebih suka melabeli mereka sebagai anak-anak difabel.
“Jangan disebut disable, karena secara tidak langsung kita men-judge sebagai orang yang tidak mampu mengerjakan apa-apa.Mereka ini punya kemampuan kok, tapi ya memang berbeda. Karena ada yang tangannya buntung, ada yang bermasalah di pendengaran, macam-macam. Tapi, saya yakin, mereka punya potensi, karena itulah saya menyebut para pengrajin di sini kaum difabel, different ability…” begitu ujar Bu Titik.
Tak hanya dipasarkan di dalam negeri. Produk Tiara Handycraft juga telah diekspor dan diminati banyak konsumen di mancanegara. Di antaranya, Brazil, Spanyol, Belanda, Amerika Serikat serta Singapura. Jaringan pemasaran yang mengglobal ini merupakan buah dari prestasi yang diraih Titik di tahun 2005.
Saat itu, Titik meraih penghargaan Microcredit Award dari pemerintah. Dia lalu berpidato di depan sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), saat mengikuti pencanangan Tahun Internasional Kredit Mikro di markas PBB di New York, Amerika Serikat.
Saat ini, tren yang berkembang adalah, para konsumen akan membeli suatu produk berdasarkan personal story yang melekat di produk tersebut.
“Misalnya ada konsumen kami yang beli tas produk Tiara. Nah, di label harga, kami jelaskan bahwa produk ini digarap oleh penyandang tuna daksa. Maka, ia akan dengan senang hati bercerita ke rekan-rekannya bahwa ‘Hei, ini lho, saya pakai tas yang dibikin oleh penyandang difabel.’ Sudah bukan trennya orang-orang di Eropa berburu tas mewah. Mereka sudah bosan dengan itu semua. Justru yang diincar adalah produk-produk yang bernyawa, yang mengandung cerita dan menghidupkan ruh produk itu sendiri.”
Dan, memang saya langsung jatuh hati dengan produk-produk yang dikreasikan sepenuh cinta oleh mereka. Satu tas cantik berbandrol 100 ribu rupiah saja, langsung berpindah tangan. Tas ini bukan sekedar tas biasa. Tas ini adalah masterpiece, sebuah karya yang layak saya jadikan sebagai trigger, sebagai pemicu semangat, sekaligus menularkan jiwa tak kenal menyerah! Jiwa yang diusung oleh saudara-saudara kita para penyandang difabel.
Anda tahu, untuk memulai usaha “Tiara Handicraft” ini, Bu Titik hanya memanfaatkan pinjaman 500 ribu rupiah dari sebuah koperasi wanita di Surabaya. Dengan bekal cinta yang meluap,Bu Titik memberikan kesempatan berkarya pada kaum difabel.
“Mereka ini sebenarnya mampu kok! Mereka mampu melawan kemustahilan. Hanya saja, orang-orang kerap memandang sebelah mata dan tidak memberi kesempatan sama sekali bagi mereka. Walaupun tidak punya famili kaum difabel, saya terpanggil untuk ikut berkontribusi memberikan kesempatan bagi kaum difabel ini, agar unjuk kemampuan… Supaya masyarakat tahu, bahwa mereka mampu melakukan banyak hal, yang mungkin selama ini tak pernah kita duga,” lanjutnya.
“Selain itu, apa yang saya lakukan sekaligus menjadi ‘tantangan’ bagi mereka yang dianugerahi fisik lengkap. Apakah anak-anak muda yang punya organ tubuh lengkap juga memiliki semangat yang sama? Atau justru, anak-anak muda berfisik sempurna itu malah punya mental yang tidak sempurna? Yang gampang menyerah? Kalah sebelum berperang? Jangan mau kalah dengan teman-teman kita ini….!” tukas Titik.